Bersikap Adil dengan Prancis


Pidato Presiden Prancis, Emmanuel Macron, 2 Oktober 2020 di Les Mureaux, menimbulkan kecaman dari berbagai umat Muslim di dunia. Kecaman tersebut juga muncul di Indonesia yang memiliki umat Muslim terbanyak di dunia. Masyarakat Muslim di Indonesia menuntut Emmanuel Marcon untuk meminta maaf dan beramai-ramai melakukan aksi demo bahkan mengajak untuk memboikot semua produk Prancis.


Dalam webinar “Kontroversi Presiden Macron & Islam: Bagaimana sikap Kita?” yang diselenggarakan oleh Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) dan Program Doktor Politik Islam-Ilmu Politik, hari Kamis, 5 November 2020. Ulil Abshar Abdalla menyampaikan bahwa ia harus fair dengan Prancis.


“Seringkali narasi pemerintah atau kebijakan pemerintah terjemahannya dalam lapangan distorsinya banyak, kenyataan di lapangan bisa lain.” kritik Ulil.


“Ada seorang perempuan berjilbab mengikuti kompetisi menyanyi di Prancis, sempat masuk hingga putaran akhir tapi terpaksa mundur, ia dibully karena punya sikap pro Palestina. To be fair dengan Prancis, karena Prancis secara eksplisit menolak saat Amerika meminta seluruh negara di Eropa mendukung Bush untuk menyerang Irak. Misalnya lagi, ketika Trump dengan kebijakannya mendorong semua negara mengalihkan kedubesnya ke Yerusalem, Prancis termasuk negara yang menolak itu.”


“Saya mengagumi Prancis karena peradaban ini besar tapi saya jengkel juga karena Prancis ada sombong-sombognya memang. Tapi memang kesombongan dan arogansi Prancis itu perlu di kritik. Saya di satu pihak memuji Prancis tapi juga mengkritik Prancis. Saya simpati kepada masyakrat Muslim di Prancis tapi pada saat yang sama saya juga mengkritik masyarakat Muslim di Prancis, tidak bisa terus menerus mempertahankan nilai-nilai Islam mereka yang dibawa dari Tunisia, Maroko, Aljazair tapi juga harus memperhatikan nila-nilai republik yang ada di Prancis,” ungkap Ulil dalam webinar tersebut.


Saya sependapat bahwa kita memang harus fair terhadap Prancis, bentuk diskriminasi atau kekerasan dalam bentuk apapun memang tidak dapat dibenarkan dan saya ingin mengutip apa yang disampaikan Syafiq Hasyim, intelektual Nahdlatul Ulama (NU), dalam diskusi di Cokro TV (30/10): “Bagaimana mungkin negara seperti Prancis harus mengurangi tradisi kebebasan berekspresi yang sudah dibangun berabad-abad untuk mentolerir satu nilai baru, seperti penghormatan ke orang suci, yang masuk ke negara itu?”


Macron, membela Majalah Charlie Hebdo yang mempublikasikan karikatur Nabi Muhammad karena menurutnya itu adalah kebebasan berbicara dan berekspresi di negaranya.


Perlu diketahui pula, Macron selama pemerintahannya mempromosikan Islam des Lumières  (Islam Pencerahan). Macron hendak memutus mata rantai ekstrimisme dan radikalisme keagamaan yang dalam tahun-tahun belakangan kerap terjadi di Prancis. Islam Pencerahan dengan yang dimaksud Marcon mungkin mirip dengan Islam Nusantara atau Islam Berkemajuan di Indonesia, yaitu sebuah Islam yang khas Prancis dan tidak dipengaruhi atau dikontrol oleh negara-negara Timur Tengah; sebuah Islam yang beradaptasi atau berakulturasi dengan identitas dan karakter budaya Prancis.

No comments:

Post a Comment

| Designed by Colorlib