Yukk, Jadikan Media Sosial Sebagai Ladang Kebaikan

Isa Oktaviani
By -
4
Kelompok 10 Online

Sehari tanpa melihat media sosial gimana sih rasanya? Gegana bukan ? Sama ! Saya juga merasakan hal serupa, satu menit saja tanpa buka whatsapp atau instagram bagai makan tanpa garam. Udah candu ya, candu secandu-candunya.

Lantas, apa saja yang kita lakukan di media sosial ? Banyak deh, mulai dari membagikan cerita aktivitas sehari-hari hingga tempat curhat dan bertegur sapa dengan teman yang dekat maupun jauh. Selain itu apa lagi? Hampir tidak ada yaa. Padahal banyak yang bisa dilakukan, bisa jualan juga di sana untuk nambah uang jajan.

Saya jadi penasaran sebenarnya di media sosial apa saja yang bisa terjadi. Ternyata sangat banyak, bahkan ia mampu melebihi kejadian di dunia nyata. Menurut Bu Niken, Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo, dalam satu menit saja di Whatsapp bisa jutaan informasi yang tersebar. Nah, gimana kalau 1 jam ? Apalagi 1 hari. "Terjadi tsunami informasi di media sosial," papar Bu Niken.

Beragam informasi bertebaran di layar gawai kita, mulai dari berita positif hingga negatif. Tapi sayangnya, sekarang malah banyak informasi negatif. Jangankan ngomong senusantara, hanya di Kalbar saja hoax udah menyerupai gemuruh lebah di tengah hutan.

Pada Juli lalu, setidaknya ada 226 warga Karangan yang mengungsi akibat isu hoax. Mereka takut keamanannnya terancam. Berita bohong yang tersebar di media sosial dan bisa diakses oleh siapa saja dan kapan saja memang memiliki akibat yang fatal. Hal ini terjadi pada tahun 2017 lalu, seorang kakek harus meregang nyawa di hakimi massa karena dianggap sebagai penculik di Sadaniang, Kabupaten Mempawah.

Mudahnya memproduksi hoax justru dimanfaatkan pihak tak bertanggungjawab untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah. Ah, saja dimana jak otaknya, berani-beraninya dia memberi santapan kepada keluarga dengan uang yang diperoleh dari ketidakbaikan itu. Tidakkah dia merasa bersalah karena apa yang dilakukan justru membuat orang terluka dan terceraiberai?

Media sosial memang darurat berita bohong, di sana ada caci maki, hal negatif juga. Maka, seperti kata Wiji Thukul, tidak ada kata lain, hanya ada satu kata : LAWAN !

Iyaa dong, kita sebagai generasi zaman now jangan malah ikut-ikutan buat konten hoax, nanti malah cintamu di-hoax'in, mau kamu ? Tidak dong. Terus gimana ? Jadilah bermanfaat bagi orang lain, buat dan sebarkan konten positif di media sosial.

Beruntunglah saya ini, gini-gini sudah pernah ikut latihan menjadi cyber pewarta kabar gembira. Sabtu - Minggu, tanggal 15 - 16 September 2018 saya dan 99 orang teman lainnya dilatih untuk membuat konten positif dari para pakar yang kompeten di bidangnya. Pada kesempatan kali ini saya akan membagikan sedikit cerita bagaimana caranya memproduksi konten positif. Penasarankan ? Sabar, ini saya mau bagikan. Gratisss !!!

Pertama, jika suka foto maka buatlah konten dengan foto kemudian foto tersebut disebarkan ke media sosial. Buat kata-kata positif dari foto tersebut. Misalnya nih, pas lagi di jalan raya, eh lihat ada seorang pemuda sedang membantu nenek tua menyebrang jalan. Buat saja narasi sesuai dengan kejadian yang kamu lihat tadi.

Kedua, untuk kamu yang suka video. Kamu bisa membuat konten video dengan durasi paling tidak 1 menit. Sangat mudah kok, bahkan pake hape saja bisa. Ingat ya, kalau buat video jangan dengan posisi potrait (posisi hp berdiri) tapi harus landscape (posisi hp baring). Kalau sudah selesai membuat video, kemudian edit. Banyak kok aplikasi untuk edit video di hp, misalnya viva video, filmora go dan masih banyak lagi.

Nah, kami tadi diajarkan menggunakan quick, kapan-kapan saya coba beri tips deh tapi lebih baik kamu coba cari dulu tutorial gunakannya di Youtube karena sangat mudah, dalam 5 menit bisa selesai, coabin aja.

Ketiga, ini cara untuk kalian yang suka menulis. Buatlah konten-konten positif di blog pribadi kalian (seperti yang saya lakukan ini, hehehe) kemudian sebarkan ke kawan-kawan. Jika agak sulit, maka teruslah belajar, baca-baca tulisan yang sarat makna misalnya di mojok.co, kompasiana, qureta.com, dan situs-situs lain yang menggunakan penulis lepas untuk mengisi konten di website mereka.

Eh, tapi kan konten negatif banyak banget ya di medsos, mampukah kita melawan ? Jelas, pasti mampu dong. Jika skema yang digunakan para penebar hoax untuk menyebarkan hoax adalah organisasi, kenapa kita tidak bisa lakukan hal serupa. Mereka jumlahnya tidak sampai 50 orang, nah kita 100 orang. Ini hanya peserta 2 hari itu saja di Pontianak, belum lagi digabung dengan teman-teman lain. Sangat banyak bukan, kita lebih besar, akan tetap ada dan berlipatganda.

Ketika kita menemukan konten negatif di media sosial, langsung saja report sama-sama. Ingat, jangan kerja sendirian, karena sejatinya sendiri itu tidaklah enak (kayak yang lagi jomblo itu, hehe). Sebagai alat bantu teman-teman cek fakta dapat buka website turnbackhoax.id atau download aplikasi Hoax Buster Tools di Playstore.

Jika dulu, Soekarno boleh bilang : Beri aku 10 pemuda maka akan kuguncangkan dunia. Itu dulu yaa, duluu banget.
Sekarang beda : Beri aku 10GB kuota maka niscaya akan kuguncangkan media sosial !

Nah, maukan negeri kita tercinta ini aman, bebas dari polusi bernama hoax dan konten negatif di media sosial. Saatnya kamu beraksi : Expresikan Sukacitamu Gengs !!!

Sekarang juga, ambil hp mu, buat kontennya dan sebarkan !!!

Post a Comment

4Comments

Post a Comment