Review

Cantik Itu Luka, Perlawanan Perempuan dari Kasur


“Bukan urusan manusia memikirkan Tuhan itu ada atau tidak, terutama jika kau tahu di depanmu manusia satu menginjak manusia yang lain.”
------- CANTIK ITU LUKA ------

novel cantik itu luka by eka kurniawan


Judul                    : Cantik Itu Luka
Penulis                 : Eka Kurniawan
Penerbit               : Gramedia Pustaka Utama
Tebal                    : 479 halaman
Cetakan pertama  : Mei 2004

Jika Pram menuliskan sejarah Indonesia lewat tetralogi Pulau Buru, Eka Kurniawan menyajikan kisah lain melalui Cantik Itu Luka. Baik Pram dan Eka sama-sama mengangkat cara perlawanan perempuan dengan cara yang berbeda. Keduanya memberikan nuansa sejarah kelam Indonesia pada masa penjajahan. Pram menampilkan Nyai Ontosoroh yang bisa kamu baca di Bumi Manusia.

Tak jauh beda dengan Pram, Eka Kurniawan menyoroti perlawanan perempuan lewat kasur. Dimana Dewi Ayu yang dikisahkan sebagai pelacur ternama di Halimunda berjuang melawan kejamnya para penjajah mulai dari zaman Belanda hingga Jepang. Tak hanya Dewi Ayu, anak-anaknya juga melakukan perlawanan serupa meski tak menjadi seorang pelacur.

Melahirkan anak-anak yang cantik cukup membuat Dewi Ayu tersiksa karena baginya cantik itu kutukan bukan berkah. Cantik menjadi objek pemuas nafsu lelaki saja. Semua anak yang dilahirkan tidak tahu ayahnya siapa karena sebagai pelacur yang sangat terkenal, Dewi Ayu sudah tidur dengan banyak lelaki yang berani membayar mahal untuknya.

Membaca Cantik itu Luka, tak hanya melihat ulang sejarah kelam Indonesia tapi kita juga disuguhkan soal seksualitas dan perlawanan perempuan. Eka Kurniawan sangat manis menyajikannya sehingga kita bahkan tak bisa berhenti membaca dari bagian ke bagian lainnya dan selalu ada kejutan tak tertebak.

Novel ini memang penuh dengan adegan seksual yang diceritakan cukup detail mulai dari Dewi Ayu bersama para pria yang pernah naksir terhadap dirinya setengah mati dan juga anak-anaknya, Alamanda, Adinda, Maya Dewi dan Cantik. Karena paras cantik mereka, anak-anak Dewi Ayu dipersunting oleh laki-laki ternama, Kepala TNI, Petinggi Komunis dan Penguasa Halimunda.

Dalam novel 490 halaman ini, semua tokoh digambarkan dengan kuat dengan peran masing-masing yang membuat novel ini tidak terlalu menonjolkan tokoh utama. Eka Kurniawan juga tak segan menuliskan sejarah G30S PKI dan pembantaian tokoh-tokoh komunis dan semua partisipannya dihabisi. Eka menuliskannya sangat baik dan setiap pembacanya memiliki emosi tersendiri ketika menyaksikan perjalanan demi perjalanan di republik ini. Namun, penutup cerita dari novel ini cukup tragis, kala cucu-cucu Dewi Ayu terpaut cinta segitiga. 

Cantik itu Luka sangat bagus untuk dibaca karena ada kritik sosial yang dalam dituliskan oleh Eka Kurniawan. Meski tulisan ini cukup berat sehingga butuh waktu yang benar-benar luang karena perlu fokus yang cukup untuk paham dengan alur maju mundur yang disajikan Eka Kurniawan.

Selamat membaca novel best seller ini dan telah diterjemahkan di beberapa bahasa.

No comments:

Post a Comment

| Designed by Colorlib