Review

Tampurung Amas, Nostalgia dengan Dongeng


Dunia yang awalnya terasa kota mati kini berubah, burung-burung yang awalnya tidak berani bernyanyi, kini riang gembira. Dedaunan yang berguguran kini segar kembali dan awanpun tidak murung lagi. Semua gembira menyambut kelengkapan keluarga Tampurung Amas


Tampurung Amas

Judul       : Tampurung Amas
Penulis    : Claudia Liberani
Penerbit  : Enggang Media
Terbit      : November 2019
Tebal       : 48 Halaman

Membaca kembali sebuah dongeng seperti kembali di masa lalu, tapi dulu dongeng itu diceritakan langsung oleh ayahku, karena tak ada buku yang bisa dibaca. Tampurung Amas, karyanya Claudia Liberani ini memang mengeruk semua ingatan akan masa kecil, memahami cerita masa lampau dari tokoh-tokoh yang dipaparkan oleh orangtua kita. Seperti cerita Asal Mula Padi Turun ke Bumi, atau cerita Abu Nawas dan lainnya.

Tapi, meski cerita yang dituliskan Claudia ini dari Tamambaloh, sebuah tempat di Putusibau Kalimantan Barat, aku belum pernah mendengar cerita ini sebelumnya. Kisah delapan orang bersaudara yang dirawat oleh sepasang raksasa dengan harapan bisa menyantap mereka ketika sudah besar. Tampurung Amas dan abang-abangnya menetas dan berkembang di hutan sehingga sangat jauh dari kehidupan orangtua mereka di desa. Kenapa Tampurung Amas dan saudaranya harus mengembara di hutan dan melintasi sungai dan bisa di rawat oleh sepasang raksasa? Jawabnya akan kalian temukan dalam buku 48 halaman ini.

Buku ini terbilang sangat tipis sehingga dalam waktu satu jam bisa diselesaikan. Apalagi bahasa yang digunakan oleh Clau sangat mudah dipahami oleh orang muda seperti kita, tetapi untuk anak kecil bisa saja membutuhkan bantuan untuk dibacakan. Tampurung Amas menjadi buku dongeng yang kubaca dari sela-sela membaca novel dan lainnya. Selain bahasa yang ringan, cerita yang dikemas dengan tulisan renyah ini serasa kita yang mengalami. Tak heran akhirnya kita tak mau berhenti melahap hingga barisan aksara terakhir.

Cerita ini juga membuat kita lebih mengenal daerah terdekat kita yang ternyata memiliki cerita unik seperti ini dan jadi alternatif untuk sedikit memahami budaya di Tamambaloh. Buku ini sangat cocok untuk semua usia karena bagi yang sudah berumur bisa nostalgia sedangkan bagi guru atau orangtua, bisa bercerita bagi anak - anak mereka. 

Menariknya lagi, lewat buku ini, Claudia menggunakan seluruh keuntungan dari penjualannya untuk kebutuhan rumah baca yang dibangunnya. Adalah Sao Mamasa sebuah rumah baca di pelosok Kapuas Hulu dibangun dan dibesarkan Clau bersama orangtua. Bagi dia, kita boleh saja tinggal di daerah terpencil tetapi jangan sampai pemikiran kita juga tertinggal. Sebuah gerakan yang tak semua orang bisa melakukannya, salut untuk Clau dan keluarga.

Bagi teman-teman yang juga mau melahap Tampurung Amas dan ingin berkontribusi sedikit bagi Sao Mamasa, langsung hubungi Clau di instagram pribadinya @claudialiberani
Semoga berjodoh ya :)

2 comments:

| Designed by Colorlib