Review

Post Page Advertisement [Top]




Aku kadang terkejut mendengar orang berkata hal yang bukan-bukan ketika mendengar Suku Dayak. Misalnya saja saat aku datang ke pulau Jawa dan bertemu dengan teman-teman yang belum pernah ke Kalimantan. Banyak pendapat mereka tentang suku yang berasal dari Kalimantan ini. Tapi sayang, tak sedikit yang mengatakan bahwa Dayak itu primitif, pemakan orang dan lain sebagainya.

Aku yang terlahir sebagai orang Dayak langsung menepis dogma tersebut, kujelaskan seperti apa suku Dayak yang ada sekarang ini. Mendengar ceritaku mereka pun tertarik dan ingin berkenalan dengan kebudayaan yang masih kental pada suku ini.
Beberapa waktu lalu, aku turut hadir pada acara Pekan Gawai Dayak (PGD) 2017 di Pontianak, Kalimantan Barat. Kegiatan ini berlangsung selama 7 hari dan diikuti oleh Dayak se-Kalimantan serta turut hadir pula Suku Indian, Amerika untuk memeriahkan pekan budaya tersebut.

Beragam kebudayaan Dayak ditampilkan agar semua yang hadir dapat mengetahui adat istiadat suku Dayak dan tentunya sebagai ajang pelestarian budaya agar tidak habis direnggut zaman. Selain itu, pagelaran ini juga dianggap waktu yang tepat untuk pengenalan budaya kepada kaum muda agar mereka menjadi penerus berkembangnya tradisi yang ada.

Proses menampi padi oleh peserta lomba menumbuk dan menampi pada Pekan Gawai Dayak 2017, Rumah Radakng, Pontianak

Pada kesempatan itu, aku sempat menyaksikan tradisi yang masih ada hingga saat ini. Menumbuk padi dan menampi. Menumbuk pada ini adalah proses membuat padi menjadi beras, padi akan ditumbuk dalam lesung dengan alu. Biasanya menumbuk dilakukan beramai-ramai agar tidak terlalu lama. Setelah proses itu selesai akan dilanjutkan dengan menampi, yaitu proses memisahkan beras dari sekam agar beras tampak bersih dan siap dimasak.

Jika sudah terbiasa, menumbuk ini akan menghasilkan alunan nada yang indah karena setiap orang bergiliran menjatuhkan alu ke dalam lesung. Kita yang menyaksikanpun dapat terhibur karena menumbuk bukan sekedar memasukan alu tetapi harus ada kerjasama dan komunikasi baik agar alu yang dijatuhkan tidak saling menabrak. Tidak jarang pula, sambil menampi biasanya sambil bernyanyi sehingga proses mengolah padi jadi tambah semarak.

Kekompakan saat menumbuk padi oleh peserta lomba menumbuk dan menampi pada Pekan Gawai Dayak 2017, Rumah Radakng, Pontianak

Kejadian ini mengingatkanku pada 12 tahun lalu, kala aku kecil juga sering ikut mengolah padi. Biasanya kami panen dari lading kemudian sampai rumah harus segera memisahkan biji padi dari tangai. Cara yang kami lakukan masih manual yaitu dengan mengirik. Padi-padi yang masih menyatu dengan tangkai dipisahkan menggunakan dua kaki yang saling bergantian. Dan padi-padi tersebut diletakan pada hamparan tikar yang besar agar muat untuk 20 orang.

Namun, pada zaman semi modern ini, kebersamaan itu hampir hilang karena semua sudah diolah dengan bantuan teknologi yang memudahkan manusia. Dari mulai panen padi hingga pengolahannya. Langkah demi langkah hampir tidak ada campur tangan manusia hingga beras tersebut siap untuk dimasak. Tetapi, rasa berasnya tidaklah seenak jika prosesnya ditumbuk. Jika diolah dengan mesin, wanginya hampir hilang dan rasanya berbeda.

Proses numbuk padi oleh peserta lomba menumbuk dan menampi pada Pekan Gawai Dayak 2017, Rumah Radakng, Pontianak


Agar budaya kebersamaan dalam pengolahan padi tersebut maka masih selalu dihadirkan setiap pekan budaya berlangsung. Proses pengolahanpun disertai dengan pakaian adat sebagai ciri khas dari orang Dayak. Sebenarnya, itu hanya secuil buaya saja, masih banyak lagi budaya yang mewarnai kehidupan orang Dayak.
Orang Dayak bukanlah suku primitif atau pemakan orang, mereka melestarikan adat budaya dan menghargai kebersamaan. Semua dianggapnya bersaudara dan jangan sesekali mengusik karena mereka tidak akan menganggu. Memang jika melihat pakaian adat yang dipenuhi dengan kepala tengkorak mungkin sedikit takut, tapi itu hanyalah seni dan memang begitulah pakaian adatnya.


Baginya, semua adalah sama. Kita bersaudara dan cintailah budaya dari leluhur nenek moyang. Lestarikan adat budaya dan bawalah itu hingga ke kancah internasional.  Jangan kita dikenal dengan keburukan tetap buatlah orang mengenal karena kebaikan kita.

No comments:

Post a Comment

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib