Review

Post Page Advertisement [Top]


"Aku tak bisa berbuat apa-apa. Menulis saja sulit padahal itu adalah hobiku dan kebiasaan setiap hari yang kulakukan. Rasanya aku tak ada semangat lagi. Aku rindu dia. Aku cuma ingin lihat dia di sini, tersenyum dan bercanda lagi denganku"


Jatuh cinta itu hak setiap orang. Tak ada larangannya, tidak juga dilarang untuk jatuh cinta kepada siapapun dan kapan harus jatuh cinta. Jatuh cinta seperti haus, bisa datang kapan saja. Jika tak minum, tubuh lemah lalu tak kuat beraktivitas.

Mau tidak mau harus diminum dan dinikmati. Ia akan masuk di sekujur tubuh, hinggap dan berkembangbiak. Semakin hari akan semakin manis, indah dan subur. Begitulah cinta kala dua insan saling menyambut dan menyirami benih itu.

Tapi apa jadinya saat benih itu telah tumbuh subur dan damai terhalang batu besar. Roboh, rusak, tak bisa tumbuh lagi ? Bisa saja itu terjadi. Seperti yang dialami oleh banyak orang yang harus merelakan cinta untuk keutuhan agamanya. Ya, cinta beda agama itu salah. Salah yang tak ada pembenarannya.

Jangan sekali-sekali berharap banyak untuk cinta yang tak bersanding dengan agama yang sama. Itu adalah sia-sia, karena tembok yang dibangun akan segera runtuh, roboh dalam waktu tertentu. Seperti kutipan di pembuka tulisan ini, rintihan seorang teman yang rapuh karena cintanya harus diselesaikan dengan alasan agama tak sama.

Orangtua tak memberi restu. Hati dan jiwanya terganggu melihat anak kesayangan harus bersama orang yang tak seiman dengannya. Ketetapan agama menjadi prioritas, sebab katanya cinta itu hanya sesaat dan duniawi banget, beda dengan agama, itu urusan akhirat. Baiklah, kita harus patuh dan manut soal ketetapan yang tak bisa diubah itu.

Lalu gimana kalau ternyata cintanya sangat besar, kalah-kalah aturan yang ditetapkan oleh agama itu ? Harus iklas dan sabar. Itulah kekuatan yang perlu dimiliki. Sekuat apapun bertahan, nanti akan roboh juga. Semampu apapun berdalih atas nama cinta yang tulus dan suci, akan sia-sia karena akhirnya pisah juga.

Tak peduli dalih hidup ini kita yang jalankan, itu alasan tak tepat. Kamu ada di dunia karena orang tua dan harus baik dengan lingkungan sekitar. Katanya kita mahluk sosial, harus peka juga dong dengan mereka. Kalau saja nikah beda agama, siap-siaplah jadi bahan omongan.

Nah, jalan pintas yang biasa diambil adalah ikut salah satu agama, atau mau pindah agama mengikuti pasangan kita. Tapi, kalau salah satu tak ada yang mau ngalah gimana dong ?
Pilihan cuma ada dua, pisah atau pindah. Simple bangetkan. 

Tapi biasanya kalau tidak mau pindah, maka akan pisah. Itulah yang menyisakan luka paling dalam, apalagi sudah bersama dalam waktu yang tidak lama, saling menemani untuk berproses dalam hidup ini. Sangat sulit untuk merealisasikan iklas dan sabar itu, palingan hanya habis-habis di mulut saja, tidak di hati.

Akhirnya, sakit hati dan jiwa merana harus dijalani. Agama adalah segalanya. Cinta beda agama itu dosa. Baiklah, cukup begitu saja. Jangan paksakan diri untuk bertahan dalam cinta yang "salah". Carilah cinta karena Tuhan, eh berarti cinta beda agama bukan karena Tuhan.

#day28

No comments:

Post a Comment

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib