Review

foto bersama dengan anak kelas II, MI Darussalam, Sungai Rengas

Tepuk tangan menggelora, memenuhi seisi ruangan galeri Canopy Center. Wajar, ternyata ada seseorang yang disambut. Dia adalah Kevin, sosial media expert, terbang langsung dari Jakarta untuk berbagi ilmu dengan peserta temu pemuda lintas iman Kalbar (Tepelima) di Pontianak.

Melihat semangat yang luar biasa membiuskan segudang harapan bahwa pemuda Kalbar akan bertekad untuk menjaga keberagaman. Sejak tanggal 17 hingga 20 November 2018, saya dan teman-teman megadakan kegiatan Temu Pemuda Lintas Iman Kalbar (Tepelima) dengan semangat merawat keberagaman di bumi Khatulistiwa. Setelah kegiatan itu, saya dan teman-teman volunteer mengadakan bakti sosial di sebuah sekolah keagamaan di Kubu Raya.

Berikut ulasan beberapa kegiatan selama seminggu belakangan.

1. Tepelima Kalbar

Aroma cahaya menghampiriku, entah dari mana datangnya, tetapi semakin hari semakin jelas. Juni 2018, bentuknya semakin nyata, menerangi seluruh jiwa dan ragaku. Kala itu, tercetus olehku dan organisasi yang kuberi nama Satu dalam Perbedaan (SADAP) untuk membuat sebuah kegiatan, konsep camp keberagaman tapi khusus anak muda.

Tepelima Kalbar

Tapi, ini tak bisa dikerjakan sendiri, harus bersama organisasi lain. Bola dilempar, keeper menangkap, mungkin begitulah ceritanya. Ide ini kusampaikan kepada ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Sungai Raya dan Pemuda Perdamaian. Mereka setuju dan akhirnya dilakukan beragam persiapan.

Tanggal 17 - 20 November 2018, akhirnya Tepelima Kalbar dilaksanakan bersama 25 orang peserta dari beragam latar belakang suku maupun agama hingga organisasi dan 10 orang panitia. Kegiatan pertama di Kalbar dengan mengusung konsep camp keberagaman.

Materi soal keberagaman disuguhkan kepada peserta, mulai dari Talkshow hingga mini seminar dan juga praktik untuk manajemen media sosial agar lebih mudah untuk kampanye hal-hal positif di medsos. Tak hanya itu, beragam outbond dilakukan agar semua elemen semakin terikat oleh cinta. Tentu saja, malam pensi juga jangan sampai ketinggalan agar bisa mengeksplorasi kreativitas para pemuda. 
Kunjungan ke Pura

Namun, ada hal yang sangat membekas dan juga baru pertama saya lakukan. Masih dalam rangkaian acara, kami mengujungi tempat ibadah, mulai dari Masjid, Gereja, Pura, Vihara, hingga Klenteng. Biasanya hanya datang sendiri atau beberapa orang, tapi kali ini rombongan lintas iman dan suku, berbaur jadi satu untuk saling mengenal.

Sekuncup cinta, sebening embun pagi, bulir-bulir semangat mulai menyapa setiap insan untuk mengabdikan diri demi Indonesia bineka.

2. Bakti Sosial 

Berbagi tidak membuatmu miskin. Itulah jargon yang selalu digaungkan, bukan hanya sekedar kata-kata tetapi harus dibarengi dengan perbuatan, aksi nyata. Selesai Tepelima, ternyata panggilan kembali menghampiri. Kali ini berjumpa dengan beberapa organisasi tergabung dalam kelompok volunteer, mulai dari Dompet Dhuafa, Aksi Sedekah Pendidikan, Sarang Semut, Rumah Baca, Ekspedisi Nusantara Jaya, dan tentu saja SADAP.

Hanya dipersiapkan dua hari, rombongan langsung eksekusi untuk mengunjungi MI Darussalam, Desa Sungai Rengas, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya.

Foto bersama di MI Darussalam, Sungai Rengas

Tepuk tangan meyapa kedatangan kami, anak-anak sudah berbaris rapi di bibir lapangan yang hanya berukuran lebar sekitar tiga meter tersebut. Melihat semangat anak-anak ini ternyata berbanding terbalik dengan kondisi sekolah mereka (saya akan cerita lebih dalam soal ini di tulisan berikutnya).

Macam-macam kegiatan dilakukan, mulai dari mengajar di kelas, bersih-bersih hingga sosialisasi kesehatan bagi anak-anak. Mereka sangat antusias mengikuti agenda demi agenda hingga kami akhirnya harus pamitan.

Praktik cuci tangan

Jika di lihat-lihat, tempat ini jauh dari kata berkecukupan, padahal letaknya tidak terlalu jauh dari pusat kota tetapi seperti tidak mendapat perhatian khusus. Tapi tidak masalah, bagi anak-anak yang bersekolah di sana, tempat ini jauh dari cukup.

3. More...

Selain dua kegiatan besar tersebut, serentetan kegiatan kulakukan. Mulai dari berkunjung ke kampung berseri astra hingga bersafari dari warkop ke warkop.

Kadang, menjadi sarjana muda di tuntut untuk langsung bekerja dan berpenghasilan, tetapi bagiku sendiri itu belum dapat diwujudkan. Sebab, masih ingin menyelesaikan tekad untuk melakukan banyak kegiatan sosial sebelum akhirnya di hisap korporasi (mungkin ya mungkin). 

Bisa saja pikiranku sempit, rasa-rasanya, ketika sudah diikat pekerjaan, akan sulit untukku melakukan hal-hal seperti sekarang ini. Jadi, sebelum waktunya tiba, mari kita nikmati dulu.

Sampai jumpa di cerita berikutnya...........

No comments:

Post a Comment

| Designed by Colorlib