Merindukan Sosok Bung Hatta

Tuhan, terlalu cepat semua
Kau panggil satu-satunya yang tersisa
Proklamator tercinta
Jujur, lugu, dan bijaksana
Mengerti apa yang terlintas dalam jiwa
Rakyat Indonesia 
Di atas adalah kutipan lirik lagu Bung Hatta yang dinyanyikan oleh Iwan Fals. Aku memang tidak hidup pada zaman Bung Hatta menjadi pejabat negeri, tapi semua cerita yang tertuang baik dalam aksara maupun lirik lagu selalu membuatku kagum. Bagaimana tidak, sosok Bung Hatta yang jujur dan sederhana  masih abadi hingga kini.



Tapi, di zaman sekarang ini, masih adakah pejabat negeri seperti Bung Hatta? Mengambil satu lembar HVS aja tidak berani apalagi harus kendarai mobil dinas dari negara. Sulit menemukan, bahkan yang ada adalah orang-orang yang udah kaya tapi masih rakus pada uang rakyat kecil. 

Lihatlah, tunjangan DPR fantastis tapi rapat paripurna kebanyakan titip absen. Banyak pejabat yang gunakan rompi orange karena terjaring OTT. Nyatanya, gaji puluhan juta masih kurang juga bagi pejabat hari ini (mungkin tidak semua, tapi sebagian besar begitu). Wakil rakyat yang kita harapkan mewakili suara rakyat ternyata hanya patuh pada partai politik. Lupa dengan kepentingan rakyatnya sendiri.

Hati kita semakin pilu ketika La Nyalla dilantik sebagai ketua DPD pada 1 Oktober 2019 lalu. Dia beberapa kali ditetapkan sebagai tersangka korupsi. Lebih lengkap lihat di bawah ini:



Tak kalah menarik pula dengan ketua DPR RI yang baru dilantik bersamaan ketua DPD. Puan Maharani, putri Megawati sebagai ketua DPR pertama perempuan yang sempat mengundurkan diri dari DPR RI karena jabat menteri kemudian mengundurkan diri jadi menteri demi dilantik jadi ketua DPR RI. Tak hanya itu, nama Puan Maharani juga disebut-sebut terlibat dalam kasus e-KTP (Kompas, Tribun, CNN).

Sebelum Puan dan La Nyalla dilantik, lebih dulu Firli dilantik sebagai pimpinan KPK, lembaga yang diharapkan mampu melindungi uang negara dari para tikus-tikus berdasi atau high hills. Pimpinan baru KPK yang juga anggota Kepolisian ini terjerat kasus pelanggaran kode etik berat.

Meski semua masyarakat menolak, nyatanya DPR dan pemerintah tetap tidak mau mendengar malah banyak tuduhan bahwa aksi-aksi yang terjadi di seluruh penjuru negeri dikatakan ada yang menunggangi, disebut sebagai kadal gurun atau pro khilafah. Ah, dasar narasi yang tidak mutu untuk menolak aspirasi masyarakat.

Lalu, aku mulai berangan, coba saja para pemimpin negeri ini sedikit menduplikasi sikap Bung Hatta, betapa kita akan sangat bahagia. Lama sekali kita tak menjumpai mereka yang duduk manis di kursi empuk itu tak terendus kasus korupsi, rasanya capek dengar berita ada saja pejabat yang terjerat kasus korupsi.

Sungguh, aku rindu Bung Hatta. Selain jujur dan sederhana, tetapi juga hobi membaca. Peka terhadap kebutuhan masyarakat bukan kebutuhan dompet sendiri.
Bung Hatta, semoga ada titisanmu di negeri ini, kelak.


Lagu Bung Hatta - Iwan Fals


Tuhan, terlalu cepat semua
Kau panggil satu-satunya yang tersisa
Proklamator tercinta
Jujur, lugu, dan bijaksana
Mengerti apa yang terlintas dalam jiwa
Rakyat Indonesia

Hujan air mata dari pelosok negeri
Saat melepas engkau pergi
Berjuta kepala tertunduk haru
Terlintas nama seorang sahabat
Yang tak lepas dari namamu

Terbayang baktimu, terbayang jasamu
Terbayang jelas jiwa sederhanamu
Bernisan bangga, berkafan doa
Dari kami yang merindukan orang
Sepertimu

Hujan air mata dari pelosok negeri
Saat melepas…
Terbayang baktimu, terbayang jasamu
Terbayang jelas jiwa sederhanamu
Bernisan bangga, berkafan doa
Dari kami yang merindukan orang
Sepertimu

4 comments:

| Designed by Colorlib