Review

Menulis Esai yang Menarik Ala Ayu Utami (Part II)


Pada bagian pertama, kita sudah belajar tentang struktur narasi dan juga progresi narasi. Sekarang akan lanjut bagian kedua belajar menulis esai menarik ala Ayu Utami. Sebelum lanjut di bagian kedua ini, ada baiknya melihat dulu bagian pertama langsung klik saja di Bagian I.

Peserta Workshop bersama Ayu Utami

C. Pembuka yang Menarik

Empat model pembuka yang menarik:
  • Kisah tokoh
  • Pendapat atau pertanyaan yang kuat
  • teka teki atau sesuatu yang membuat penasaran
  • Suasana yang menyentuh

Pembuka dengan Kisah Tokoh

Rio Han nyaris tak bisa tampil di sebuah festival sastra internasional. Pesawat yang akan ditumpanginya tak bisa mendarat di Pontianak akibat kabut asap. Padahal, bagi seorang penulis baru seperti dia, penting muncul dalam perhelatan sastra. Tapi, musim kemarau itu Kalimantan Barat diselimuti asap akibat kebakaran hutan masif. Rio terpaksa menggunakan rute darat, nyaris sehari perjalanan, ke bandara pengalihan.

Rio sendiri—seorang sarjana farmasi—bekerja di perusahaan minyak sawit, salah satu penyebab kebakaran hutan skala besar di Indonesia. Ia merasakan ironinya. Asap yang menyesakkan dada dan memerihkan mata itu juga disumbang oleh tempat ia mencari nafkah. Ada ribuan orang seperti dia, yang menggantungkan hidup pada pembukaan hutan, yang secara akumulatif menghancurkan ekosistem…

Pembuka dengan Pernyataan yang Kuat


Dulu saya tak percaya bahwa keretaapi bisa diperbaiki menjadi kendaraan publik yang pantas. Sejak lahir, yang saya rasakan, keretaapi adalah transportasi bagi kaum marginal—termasuk saya. Kakus kereta begitu kotor dan bau, sehingga saya selalu menyiapkan diri untuk tidak buang air di perjalanan. Nasi goreng dan teh manisnya, konon, adalah daur ulang dari sisa penumpang sebelumnya. Jadwal tak pernah tepat, dan perjalanan selalu molor—membuat penderitaan bertambah bagi orang yang tak mau ke kamar kecil.

Kengerian memuncak pada saat mudik Lebaran. Calo memborong tiket dan menjual kembali pada penumpang dengan harga berlipat. Petugas, karena korup sekaligus lemah hati, menerima sogokan dan membiarkan pemudik naik untuk berdiri sepanjang perjalanan, berjongkok di lantai, atau nongkrong di WC, karena mereka tak dapat jatah kursi lagi…

Pembuka dengan teka teki atau pepatah atau apapun yang membuat penasaran

Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.
“Pak Guru kan laki-laki. Apa salahnya kalau dia pipis berdiri?” keponakan saya bertanya sambil mengerenyitkan dahi. Ia baru naik kelas tiga, dan mulai belajar peribahasa. Ya, apa salahnya seorang lelaki buang air kecil sambil berdiri? Bukankah urinoir membuat kaum pria harus kencing
berdiri?

Saya ingat, saya juga merasa heran ketika pertama kali belajar peribahasa itu… [Teks ini bisa berlanjut dengan topik bahasa ataupun perubahan bentuk WC dalam masyarakat Indonesia.]

Pembuka dengan Suasana yang Menyentuh

Langit malam itu begitu gelap dan jernih. Bintang-bintang seperti berlian bertabur pada beludru hitam. Rasi waluku tersemat di antaranya, konstelasi bintang yang dulu pernah jadi penunjuk bagi pelaut dan petani, tapi kini sudah dilupakan orang modern.

Langit kota Jakarta tak pernah sebening di sini, selalu keruh oleh polusi…[Teks ini bisa berlanjut dengan topik lingkungan hidup.]

D. Penutup yang Bermakna

Empat model dasar penutup yang bermakna:

  • Afirmasi
  • Negasi
  • Kompleksitas
  • Solusi (terhadap posisi awal atau pendapat umum)

E. Bahasa

Empat model bahasa:

  • benar dalam kaidah
  • efektif
  • efesien
  • menyentuh

Contoh

Tahun 2015 Rio Han nyaris tak bisa tampil di sebuah festival sastra internasional. Pesawat yang akan ditumpanginya tak bisa mendarat di Pontianak akibat kabut asap. Padahal, bagi seorang penulis baru
seperti dia, penting untuk muncul dalam perhelatan sastra. Musim kemarau itu Kalimantan Barat diselimuti asap akibat kebakaran hutan masif. Rio terpaksa menggunakan rute darat, nyaris sehari perjalanan, ke bandara pengalihan.

Rio sendiri—seorang sarjana farmasi—bekerja di perusahaan minyak sawit, salah satu penyebab kebakaran hutan skala besar di Indonesia. Ia merasakan ironinya. Asap yang menyesakkan dada dan
memerihkan mata itu juga disumbang oleh tempat ia mencari nafkah. Ada ribuan orang seperti dia, yang menggantungkan hidup pada pembukaan hutan, yang secara akumulatif menghancurkan alam.

Menurut World Resources Institute (WRI), pada periode 2009-2014 tingkat deforestasi di Indonesia mencapai 1,7 juta hektar per tahun, salah satu yang tercepat di dunia. Pada tahun 2015 terjadi kebakaran hutan terburuk dalam 20 tahun. Sekitar 127 ribu titik api menghasilkan 11,62 juta metric ton karbon CO2. Selain itu, kabut asap berdampai langsung pada penerbangan di wilayah Indonesia,
Singapura, dan Malaysia, seperti dialami Rio.

Peristiwa ini rupanya tidak hanya terjadi di hutan terbuka. Bahkan di area konservasi, menurut Forest Watch Indonesia, rata-rata hutan hilang mencapai 8,5 persen per tahun. Walau angkanya tampak kecil, ini bertolak belakang dengan tujuan konservasi, yaitu menyelamatkan hutan serta menambah kualitas dan kuantitas ekosistem…

[Paragraf 5:]   Rio pernah berkunjung ke salah satu hutan konservasi. Siapa pengelolanya?
[Paragraf 6:]   Bagaimana keadaannya? Apa kendalanya?
[Paragraf 7:]   Pihak-pihak apa yang memperburuk keadaan?
[Paragraf 8:]   Rio merasakan konflik batin karena bekerja di perusahaan sawit.
[Paragraf 9:] Rio memutuskan untuk berhenti bekerja di sana dan mencari pekerjaan yang tidak secara langsung merusak lingkungan.

Alternatif penutup

Kerusakan hutan di Indonesia memang masih akan berulang. Reformasi, sementara ini, ternyata memberi kesempatan semua pihak mencari keuntungan sesaat. Tapi ada individu, seperti Rio, yang mencoba memperbaiki keadaan dengan memilih profesi dan gaya hidup yang lebih sadar lingkungan.

Rangkuman







"Setialah pada logika dari kalimat yang paling sederhana"  - Ayu Utami -

No comments:

Post a Comment

| Designed by Colorlib