Review

Menulis Esai yang Menarik Ala Ayu Utami


Menulis esai menjadi salahsatu tulisan yang digandrungi untuk berpendapat terhadap sesuatu atau menyampaikan informasi kepada khalayak ramai. Tak jarang esai juga dilombakan untuk menemukan inovasi masyarakat untuk pembangunan negara. Namun, menulis esai tentu tidak sama dengan opini atau artikel (Apa bedanya ketiga hal ini bisa dibahas lain waktu). Kita akan fokus membahas esai yang dipandu oleh Ayu Utami. Materi ini saya dapatkan langsung tahun 2017 lalu ketika mengikuti kelas menulis bersama Ayu Utami yang diadakan oleh Qureta di Pontianak. 

Ayu Utami


Menurut Ayu Utami, Esai itu adalah
  • tulisan pendek yang menarik tentang suatu topik
  • ditulis dengan menarik
  • menggabungkan pendapat dengan data (opini dan reportase/riset)
  • pendek dan menarik memang relatif tapi ada pedoman yang mendekatinya (penjelasan poin pertama dan kedua)

A. Struktur Narasi

  • Pembuka 
Pendek dengan Lead yang menarik
  • Tubuh tulisan
Panjang : deskripsi dan argumen mendukung klimaks opini 
  • Penutup
Satu klimaks opini, menegaskan atau memberi pertanyaan

Contoh: Esai Populer

Reformasi Kereta Api

Dulu saya tak percaya bahwa keretaapi bisa diperbaiki menjadi kendaraan publik yang pantas. Sejak lahir, yang saya rasakan, keretaapi adalah transportasi bagi kaum marginal, termasuk saya. Kakus kereta begitu kotor dan bau, sehingga saya selalu menyiapkan diri untuk tidak buang air di perjalanan. Nasi goreng dan teh manisnya, konon, adalah daur ulang dari sisa penumpang sebelumnya. Jadwal tak pernah tepat, dan perjalanan selalu molor membuat penderitaan bertambah bagi orang yang tak mau ke kamar kecil. 

Kengerian memuncak pada saat mudik Lebaran. Calo memborong tiket dan menjual kembali pada penumpang dengan harga berlipat. Petugas, karena korup sekaligus lemah hati, menerima sogokan dan membiarkan pemudik naik untuk berdiri sepanjang perjalanan, berjongkok di lantai, atau nongkrong di WC, karena mereka tak dapat jatah kursi lagi. Kita tak ke WC bukan lagi karena berniat menahan, melainkan karena kamar kecil pun telah ada yang menduduki. 

Keretaapi adalah transportasi vital yang mengangkut penumpang. [tambahkan data] Tapi, jawatan keretaapi selalu merugi. [tambahkan data yang relevan]

Perasaan sedih tentang keretaapi Indonesia semakin menjadi setiap kali saya ke negara maju: Amerika Serikat, Eropa, Jepang, tapi—tak usah terlaluh jauh—juga Singapura, Kualalumpur, atau Bangkok. Di sana kita merasa jadi manusia di dalam kereta. Di Indonesia, kita sering merasa jadi hewan di dalam kereta. 

Di awal era Reformasi, permasalahan perkeretaapian sudah seperti benang kusut. Tak tahu darimana perbaikan harus dimulai. Terkadang, jika sedang fatalistik, saya merasa bahwa bangsa Indonesia mungkin ditakdirkan menjadi bangsa yang korup dan gagal mengelola diri.

Perasaan fatalistik itu berubah di tahun 2009. Direktur Utama PT KAI yang ketika itu baru, Ignasius Jonan, diam-diam membuat gebrakan besar. Tahu-tahu kita tidak lagi melihat kekisruhan yang biasa terjadi di musim mudik. Tiba-tiba tak ada lagi calo. Penumpang membeli tiket dengan harga resmi dan semua orang terlayani. Tak pernah terjadi sebelumnya sepanjang sejarah Indonesia! Wajah keretaapi berubah sama sekali. Apa yang terjadi?

Jonan mengubah sistem dan kultur kerja di PT KAI. Dalam hal kultur, ia memimpin dengan turun langsung. Lima belas hari ia tak tidur di rumah, melainkan di stasiun dan bahkan dalam gerbong, untuk mengawasi langsung pelayanan mudik. Ia memecat karyawan yang malas dan membangun harga diri pada yang rajin. 

Dalam hal sistem, salah satu terobosan yang ia lakukan adalah mengubah pembelian tiket dari manual menjadi online. Tiket kereta, yang dulu hanya bisa dibeli di loket stasiun, kini bisa dibeli lewat internet dan minimarket. Tanpa harus menangkap calo, pekerjaan tukang catut tiket itu mati dengan sendirinya. Keretaapi kini bebas calo. 

Di tangan Jonan PT KAI, yang sebelumnya rugi Rp 83,5 miliar pada 2008, jadi untung Rp 154,8 miliar pada 2009. Pada tahun 2013, labanya tercatat sebesar Rp 560,4 miliar. Jonan juga melipatgandakan aset KAI dari Rp 5,7 triliun pada 2008, menjadi Rp 15,2 triliun pada 2013.

Tentu, Jonan bukan tanpa kontroversi. Tapi, sejak ia mulai, perkeretaapian di Indonesia sungguh berangsur mengejar standar negeri maju. Dan, setidaknya, kini saya tak punya alasan lagi untuk fatalistik dalam menganggap bahwa bangsa Indonesia akan selamanya terpuruk pada tabiat korupsi dan gagal-kelola. Ia memberi contoh bahwa kita bisa menjadi bangsa yang maju. Tugas kita adalah melanjutkan dan memperbaiki.

Seandainya kita punya 10 paragraf maka 1 dan 2 adalah lead. 2 sampai 9 adalah badan tulisan dan 10 adalah penutup.


B. Progresi Narasi

Progresi Narasi

Contoh


Materi Esai dari Ayu Utami masih ada dua bagian lagi yakni Pembuka yang Menarik dan Penutup yang Bermakna. Tapi, akan saya lanjutkan di Bagian II


No comments:

Post a Comment

| Designed by Colorlib