Review

Meriam Karbit dan Malam Takbiran di Pontianak

Setelah satu bulan lamanya berpuasa tentu akan merayakan kemenangan dengan suasana yang penuh kebahagiaan. Hari raya Idul Fitri 1438H yang jatuh tanggal 25 Juni 2017 sudah berkumandang di seluruh negeri. Saya yang sama sekali belum pernah merasakan gemilangnya malam lebaran atau yang biasa dikenal dengan malam takbiran turut merasakan kemeriahannya di sebuah kota yang terbilang unik karena berbeda dari tempat lain.

Meriam Karbit Pontianak
sumber : Pontianak Post


Pertama kali dalam hidup merasakan degupan jantung saling kejar-kejaran dengan suara meriam karbit di tengah meriahnya malam takbiran di Kota Pontianak. Biasanya malam takbiran dirayakan berkeliling kampung membawa obor sambil melantunkan lagu islami. Tapi, di Kota Khatulistiwa ini memang sedikit unik dan tiada duanya. Meriam karbit yang dinyalakan setiap malam takbiran sudah menjadi kegiatan rutin di bumi borneo barat ini. Tumpah ruah manusia pun tak terhindarkan disetiap titik area meriam karbit. Kemeriahannya semakin menakjupkan karena hiasan kreatif yang ditempelkan pada setiap batang meriam karbit.

Sebagai orang baru yang menyaksikan langsung kemeriahan, keterpesonaanku tak terhelakan lagi. Hampir setiap titik kami kunjungi. Ternyata memang setiap area beda model atau motifnya, ada yang dihias dengan tema full color, ada pula yang sengaja hanya warna hitam kuning. Tampak pula hiasan seperti khas anime Naruto dan tema bunga-bunga.

Sebelum dinyalakan, meriam karbit ini terlebih dahulu disiram air kemudian telah tersedia lobang dengan ukuran sekitar 10cm x 10cm untuk memasukan karbitnya. Setelah karbit bersemayam didalamnya, lobang kemudian ditutup menggunakan kain sekitar 3 hingga 5 menit. Jika persiapan selesai, kain pada lobang tersebut dilepaskan kemudian api siap membakar karbit yang ada.
Alat pembakarpun tak sembarangan, telah disediakan kayu dengan ukuran kurang lebih 100cm dan besarnya sama dengan pergelangan tangan anak usia 5 tahun. Agar api terkumpul dan tidak kemana-mana, pada ujung kayu telah dibalutkan karet yang siap dicocol dengan api.

Saya dan ribuan orang lainnya yang ikut meramaikan tentu sangat mengagumi temuan Syarif Addurrahman Alkadrie ini. Kala itu ia yang sedang membuka lahan di Pontianak memerintahkan anak buahnya untuk mengusir hantu kuntilanak karena memang dari sejarahnya Kota Pontianak itu dikenal dengan banyaknya hantu kuntilanak. Waktu terus berjalan, temuan unik ini tidak pernah dilupakan bahkan dijadikan sebuah festival wajib di Kota Pontianak pada masa Idul Fitri.

Menariknya lagi, meriam-meriam ini tersusun rapi di tepian Sungai Kapuas yang letaknya berhadap-hadapan seolah-olah siap untuk tempur di medan perang. Tapi jangan khawatir, karena hasil dari karbit ini bukan seperti peluru senjata tajam, ia hanya mengeluarkan bunyi nyaring dan semburan api tepat dimulut kayu.

Maka tidak heran, ketika meriam mengaung, telinga siap-siap bengal dan hentakan didada pun lumayan mengagetkan. Apalagi semua Meriam karbit dibunyikan secara bergiliran dengan selang wakti 5 detik, maka keramaian semakin terasa. Maka untuk menikmati bunyi harus menepikan diri pada jarak sekitar 10 meter.

Kemeriahan yang dianggap langka karena hanya ada satu kali dalam setahun ini tidak akan disia-siakan oleh masyarakat Pontianak dan sekitarnya. Setiap elemen berkumpul memadukan diri memeriahkan malam lebaran. Pada saat itu pula, sungai terpanjang di Indonesia ini dipadati oleh kapal motor yang penuh oleh penumpang.

Kapal motor ini memang sudah disediakan bagi siapa para pengunjung yang akan menikmati meriam karbit di kawasan Sungai Kapuas. Semua penumpang dibawa keliling sungai yang melintasi semua area meriam dengan jumlah setidaknya 200 buah. Memang, ketika berada di atas sungai keistimewaan malam takbiran amat berbeda dan terasa lebih menarik.

Memang amat menyenangkan melewati malam lebaran di Kota Pontianak, karena selain dapat menikmati pesona sungai terpanjang juga ikut serta dalam alunan nada meriam yang saling sahut-sahutan. 


No comments:

Post a Comment

| Designed by Colorlib