Review

Post Page Advertisement [Top]

Buku Midah Karya Pramoedya Ananta Toer

Judul        : Midah Si Manis Bergigi Emas
Penulis     : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit   : Lentera Dipantara 
Kategori  : Sejarah Fiksi
Tebal        : 132 Halaman
ISBN        : 9789799731272

Deraian tangis membasahi pipi mungil itu. Nada nya menjadi nyanyian di tengah malam tanpa bintang. Midah merasakan suasana yang jauh berbeda kala dirinya dalam pelukan manja Hadji Abdul, bapaknya sambil mendengarkan senandung Umi Kalsum. 

Kini ia harus memeluk anak semata wayang nya dalam senandung air mata tak terhingga. Dinginnya malam terus membius hingga ke tulang rusuk Midah. Apa hendak ia lakukan, tak sesuatu pun ia miliki.

Kenyataan pahit ini harus ia terima karena ketidakadilan yang dialami dalam keluarga terpandang dan beragama itu. Terlebih dirinya yang molek ini harus dinikahkan dengan Hadji Terbus, seorang berkepunyaan tapi doyan kawin dan isteri nya tersebar di seluruh Cibatok, kampung halaman Hadji Abdul.

Midah tak kuasa menanggung itu. Hamil tiga bulan Dia pergi dari rumah itu dan menjajal pahitnya kehidupan Jakarta.

Beruntung lah Si Manis ini memiliki suara merdu dan piawai menyanyikan lagu-lagu keroncong hingga dirinya dapat bergabung dengan gerombolan pengamen jalanan. Resto ke Resto dijajaki demi mendapatkan sesuap nasi.

Kehidupan keras yang rentan membuat orang putusasa dan patah semangat. Tidak menutup kemungkinan juga bagi seseorang nekat mengakhiri hidupnya. Namun, Midah, si Manis ini tetap tegar meski terbiasa hidup berkecukupan tidak sedikit pun niatan demikian. Dia melawan semua itu sekuat tenaga.

Parasnya yang molek tidak dipungkiri membuat banyak mata terpesona dan ingin mempersunting dirinya. Tapi, Midah tetap bertahan menjadi seorang biduan kroncong untuk menghidupi dia dan anaknya.

Sesekali ia teringat kecukupan di rumahnya dan dirinya dimanjakan oleh orang tuanya. Tapi, Midah tak dapat lagi menikmati hangatnya pelukan sang bapak dengan senandung suara merdu Umi Kalsum. Semua kepunyaan Midah direnggut sejak lahir adik nya. Dia lenyap dari perhatian orang tuanya. Kehancuran batin yang diterima membuat ia tertegun dan berusaha memberi kecukupan kepada anaknya meski harus pulang larut malam.

Keindahannya membuat kepala rombongan mengasihi dirinya hingga membuat yang lain iri dan grup itupun tidak berjalan dengan kehangatan. Meski istirahat dalam satu ruangan yang sama, tetapi satu ada perselisihan di hati masing-masing. Tapi, demi anaknya, Midah tak perduli akan semua itu. Dia terus bernyanyi dan bernyanyi.

Hingga pada suatu hari, kisah Midah berkeliaran di tanah Jakarta sampai ke telinga ibunya hingga membuat keluarga yang mulai runtuh perekenomian itu sibuk mencari nya. Tak terkecuali Hadji Abdul yang pernah melempar kan tangan di pipi Midah. Meski sakit, dia terus mencari sang anak sulung. Akhirnya, Ibundanya lah yang memenmukan kediaman Midah dan membawa cucu nya kembali ke rumah.

Girang bukan main ia mendapati cucu nya itu. Tak henti-hentinya nya menimang buah hati Midah dan Hadji Terbus. Hal inilah yang memanggil Midah datang kembali ke rumah kelam itu. Demi anak. Anaknya sendiri.

Namun, jauh sebelum itu, Midah sudah terbuai cinta lelaki muda bernama Ahmad. Karena kesukaan mereka hingga jatuh dalam buaian malam bermandikan kesukaan. Perbuatan keduanya inilah membuat Midah hamil lagi, tanpa pertanggungjawaban Ahmad hingga membuat Midah tak kuat menanggung malu dan meninggal kan rumah orangtuanya. Kehidupan liar di luar  rumah membuat dirinya memulai karir sebagai penyanyi di radio. 

Namanya pun kian terkenal dimana-mana. Karirnya semakin meroketnya hingga dia menjadi bintang film. Ketenarannya sejalan dengan pergaulannya dengan banyak lelaki. Namun, tiada yang tahu apa yang terjadi dalam jiwa Midah.

Itulah kisah Midah, Si Manis Bergigi Emas.



Hidup dalam dunia yang ganas tetapi harus dijalani seorang perempuan memang membuat kita harus berpikir keras juga.

Namun, sikap Midah yang tak kenal putusasa dan pemberani dapat dijadikan pelajaran kita
Deraian tangis membasahi pipi mungil itu. Nada nya menjadi nyanyian di tengah malam tanpa bintang. Midah merasakan suasana yang jauh berbeda kala dirinya dalam pelukan manja Hadji Abdul, bapaknya sambil mendengarkan senandung Umi Kalsum. 

Kini ia harus memeluk anak semata wayang nya dalam senandung air mata tak terhingga. Dinginnya malam terus membius hingga ke tulang rusuk Midah. Apa hendak ia lakukan, tak sesuatu pun ia miliki.

Kenyataan pahit ini harus ia terima karena ketidakadilan yang dialami dalam keluarga terpandang dan beragama itu. Terlebih dirinya yang molek ini harus dinikahkan dengan Hadji Terbus, seorang berkepunyaan tapi doyan kawin dan isteri nya tersebar di seluruh Cibatok, kampung halaman Hadji Abdul.

Midah tak kuasa menanggung itu. Hamil tiga bulan Dia pergi dari rumah itu dan menjajal pahitnya kehidupan Jakarta.

Beruntung lah Si Manis ini memiliki suara merdu dan piawai menyanyikan lagu-lagu keroncong hingga dirinya dapat bergabung dengan gerombolan pengamen jalanan. Resto ke Resto dijajaki demi mendapatkan sesuap nasi.

Kehidupan keras yang rentan membuat orang putusasa dan patah semangat. Tidak menutup kemungkinan juga bagi seseorang nekat mengakhiri hidupnya. Namun, Midah, si Manis ini tetap tegar meski terbiasa hidup berkecukupan tidak sedikit pun niatan demikian. Dia melawan semua itu sekuat tenaga.

Parasnya yang molek tidak dipungkiri membuat banyak mata terpesona dan ingin mempersunting dirinya. Tapi, Midah tetap bertahan menjadi seorang biduan kroncong untuk menghidupi dia dan anaknya.

Sesekali ia teringat kecukupan di rumahnya dan dirinya dimanjakan oleh orang tuanya. Tapi, Midah tak dapat lagi menikmati hangatnya pelukan sang bapak dengan senandung suara merdu Umi Kalsum. Semua kepunyaan Midah direnggut sejak lahir adik nya. Dia lenyap dari perhatian orang tuanya. Kehancuran batin yang diterima membuat ia tertegun dan berusaha memberi kecukupan kepada anaknya meski harus pulang larut malam.

Keindahannya membuat kepala rombongan mengasihi dirinya hingga membuat yang lain iri dan grup itupun tidak berjalan dengan kehangatan. Meski istirahat dalam satu ruangan yang sama, tetapi satu ada perselisihan di hati masing-masing. Tapi, demi anaknya, Midah tak perduli akan semua itu. Dia terus bernyanyi dan bernyanyi.

Hingga pada suatu hari, kisah Midah berkeliaran di tanah Jakarta sampai ke telinga ibunya hingga membuat keluarga yang mulai runtuh perekenomian itu sibuk mencari nya. Tak terkecuali Hadji Abdul yang pernah melempar kan tangan di pipi Midah. Meski sakit, dia terus mencari sang anak sulung. Akhirnya, Ibundanya lah yang memenmukan kediaman Midah dan membawa cucu nya kembali ke rumah.

Girang bukan main ia mendapati cucu nya itu. Tak henti-hentinya nya menimang buah hati Midah dan Hadji Terbus. Hal inilah yang memanggil Midah datang kembali ke rumah kelam itu. Demi anak. Anaknya sendiri.

Namun, jauh sebelum itu, Midah sudah terbuai cinta lelaki muda bernama Ahmad. Karena kesukaan mereka hingga jatuh dalam buaian malam bermandikan kesukaan. Perbuatan keduanya inilah membuat Midah hamil lagi, tanpa pertanggungjawaban Ahmad hingga membuat Midah tak kuat menanggung malu dan meninggal kan rumah orangtuanya. Kehidupan liar di luar  rumah membuat dirinya memulai karir sebagai penyanyi di radio. 

Namanya pun kian terkenal dimana-mana. Karirnya semakin meroketnya hingga dia menjadi bintang film. Ketenarannya sejalan dengan pergaulannya dengan banyak lelaki. Namun, tiada yang tahu apa yang terjadi dalam jiwa Midah.

Itulah kisah Midah, Si Manis Bergigi Emas.

Kisah Midah. Sosok perlawanan perempuan dari keluarga terpandang dan beragama tapi ada sekelumit kepahitan yang harus ditelan dan di kunyah terus. 
Akhirnya, rasa pahit tersebut harus dilunturkan dengan gula-gula kehidupan yang cukup menguras hati dan tenaga.

Tapi Midah, meski pernah manja dan punya segalanya, akhirnya tegar dan berani menghadapi semuanya.

1 comment:

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib