Review

Post Page Advertisement [Top]





Berjumpa Soesilo Toer, Mengenal Pram Lebih Dekat. Sebelumnya aku tak pernah menyangka kalau penulis yang kukagumi juga memiliki adik seorang penulis. Terlebih, hasil tulisannya adalah fakta-fakta mendalam mengenai si tokoh. Pramoedya Ananta Toer, sosok yang dikenal banyak orang. Menghabiskan separuh hidupnya di penjara tapi melahirkan banyak karya.

Buah pikirannya dibaca banyak orang hingga saat ini. Tulisan-tulisannya dijadikan rujukan. Bahkan, untuk saya pribadi, buku Tetralogi Pulau Buru menjadi seri pembakar semangat untuk menulis dan membaca, lagi dan lagi. Teringat selalu kata Pram, menulis adalah sebuah keberanian. Menulis apa saja untuk mengungkapkan isi pikiran kita. Dengan meninggalkan jejak melalui goresan tinta, maka hal itu akan abadi sampai akhir waktu.


Pram memang sangat piawai merangkai kata-kata hingga setiap membaca karyanya, saya selalu larut dalam cerita. Membaca buku Pram adalah salah satu cara belajar sejarah dengan menarik dan tidak membosankan. Bahkan, sekejab saja tak mau ditinggalkan, seperti nonton drama Korea, tak mau ketinggalan sampai habis cerita. Menikmati cerita dari buku Pram menjadi asupan sangat baik untuk jiwa. Aku menyukai karyanya. Aku ingin bicara dengannya. Aku ingin bertanya banyak hal kepadanya. Apa yang ia pikirkan hingga menghasilkan karya-karya yang luar biasa.


Sejumlah pertanyaan tentang Pram ternyata akan dikupas tuntas oleh sang adik. Soesilo Toer adalah seorang penulis yang merupakan adik kandung dari Pram. Dia menulis banyak tentang Pram yang dimuat dalam buku Pram dari Dalam, Pram dalam Kelambu, Pram dalam Bubu dan Pram dalam Belenggu. Empat buku ini akan menelanjangi Pram, sang penulis dengan karya yang ditakuti masa orde baru. Dilarang beredar bahkan dihilangkan. Untung saja, masih banyak karya Pram yang dapat dinikmati hingga saat ini.

Keluarga Toer telah dibiasakan untuk dekat dengan literasi, paling tidak membaca. Hingga lahir Pram dan dengan karya-karyanya mereka yang luar biasa. Soesilo Toer memang tak setenar abangnya, Pramoedya Ananta Toer, tetapi Soesilo ini adalah sosok yang penuh semangat di dunia literasi. Meski sudah berumur 80 tahunan, dia tetap mau berbagi semangatnya kepada para muda di Pontianak dalam kegiatan Talk Show yang berkaitan dengan literasi di era digital.




Kesempatan berjumpa dengan adik Pram ini adalah hadiah langka yang kurasakan. Dapat mendengar langsung cerita tentang Pram dan tokoh-tokoh di bukunya terutama tokoh yang ada di Bumi Manusia. Sebagai adik, Soesilo tau betul dengan cerita yang dituliskan oleh abangnya. Katanya juga, Pram sudah seperti teman, abang, bahkan guru sehingga kedekatan mereka tak bisa diragukan lagi. Soesilo Toer sudah menyukai dunia literasi sejak usia belia, yakni 13 tahun.

Bertemu Soesilo, memberi semangat baru, memotivasi diri untuk lebih giat dalam gerakan literasi, terutama untuk diri sendiri dan juga orang lain. Mendengarkan Soesilo, seperti menemukan sosok Pram yang telah lama menyatu dengan alam tetapi karyanya tetap abadi. 

Dua kakak beradik ini memiliki semangat yang sama. Semangat untuk membangun dunia literasi. Mengabadikan diri melalui tulisan, menyampaikan buah pikiran melalui goresan tinta yang kemudian dinikmati banyak orang.

Terima kasih untuk hari ini. Soesilo Toer membuat kami lebih dekat dengan Pram. Meski sosoknya mulai senja tetapi semangatnya kalah-kalah remaja. Buku-buku yang sudah ada ditangan akan segera di baca.


5 comments:

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib