Putus Karena Beda Agama Lebih Sakit daripada Dighosting

Isa Oktaviani
By -
0

Putus Karena Beda Agama Lebih Sakit daripada Dighosting



Kapan terakhir kamu putus cinta? Kita memiliki beragam kisah dan sebagian besar mengalami namanya putus cinta. Aku sendiri merasakannya enam tahun lalu dan perlahan sembuh dibalut cinta yang baru. Tak pernah terbayang akan seterpuruk itu ketika kita sedang sayang-sayangnya lalu ditinggal pergi tanpa alasan, tanpa sepatah kata, tanpa kabar apapun. Kalau bahasa sekarang katanya sih dighosting sempat ramai dibahas karena kisahnya anak presiden. Saat itu rasanya udah kayak nggak ada harapan hidup (wajar ya masih labil banget), taunya cuma nangis doang, makan tak enak, tidur tak nyenyak.



Masa terpuruk sangat dalam itu berlangsung 2 minggu dan untung saja seorang teman memberiku sebuah buku Spirit Girl, renungan rohani untuk remaja. Aku jadi lebih sering baca Alkitab dan membaca renungan penuh semangat dari buku itu. Setelah membaca rutin selama seminggu, aku mulai punya sedikit harapan dan semangat. Akhirnya aku memutuskan mencari kesibukan dan bergabung di organisasi jurnalistik kampus, untuk mencari kesibukan dan berharap bisa melupakan dia.

Setelah hampir sepuluh bulan mencoba berdamai dengan keadaan ternyata ada sosok yang diam-diam menaruh perhatian kepadaku, bersiap melabuhkan hatinya dalam pangkuanku. Awalnya aku sulit menerima karena kita berbeda agama. Tapi semesta seperti membawaku dalam pilihan rumit, antara rasa nyaman dan menjalankan hubungan beda agama. Entah apa yang mendorong akhirnya kami membuka gerbang duri, duka dan bahagia. Dia anak pertama dari dua bersaudara, adiknya cuma beda dua tahun denganku jadi katanya dia lumayan paham menghadapi tabiat anak bungsu.

Waktu berjalan begitu singkat, kami masih menikmati indahnya samudera asmara remaja hingga lupa ada jurang penghalang nantinya. Berjalan dalam suka dan bahagia, kami saling mendampingi agar bisa lulus kuliah, tentu saja dia lebih duluan karena memang dia senior 3 tahun lebih dulu kuliahnya. Kami menyaksikan perjalanan masing-masing, saling mendukung untuk perkembangan satu sama lain hingga akhirnya kita bisa punya pekerjaan dan income yang cukup.

Tanpa terasa terlalu banyak yang sudah kita lewati dan ternyata kita sudah bersama lima tahun lima bulan dan menjadi waktu terlama bagiku ketika menjalin hubungan. Kita sudah ingin mengakhiri hubungan sejak setahun pacaran tetapi selalu gagal, tahun kedua juga sama hingga tahun kelima. Kali ini, sepertinya akan benar-benar berakhir karena ternyata dulu kita hanya menunda perpisahan yang sengaja menancap luka dalam didiri masing-masing.

Memilih berakhir karena tak satupun dari kami mau pindah agama dan merasa sudah sangat nyaman dengan agama yang saat ini dianut. Menikah beda agama juga tak diharapkan olehnya, satu-satunya yang paling bisa dipilih adalah berpisah untuk selamanya. Keputusan ini mungkin salahsatu yang terberat dalam hidupku, kami masih sama-sama mengharapkan untuk terus bersama tapi menjadi tinggal harapan ketika Rosarioku tak bisa menjadi Tasbihnya. 

Dengan berat hati kami harus memutuskan perpisahan saat keduanya masih sama-sama nyaman. Kedekatan dengan keluarga juga tidak mampu menjamin kami terus bersama. Datang baik-baik, pergi juga baik-baik, itulah yang kami sepakati. Tapi sebagai seorang manusia yang rapuh dan tak berdaya, aku sempat merasakan sangat down, nangis dan semua serba tidak nyaman. Tiba-tiba terbangun dalam tidur dan membayangkan saat-saat bersama dan tanpa terasa air mata mengucur deras. Aku juga merasa sedikit stress rasanya cukup sulit untuk menerima keadaan, saat aku yakin dia yang bisa membuat hari-hariku berwarna dan bisa menghadirkan rasa aman dan nyaman, harus pergi disaat kita sudah siap untuk menikah. Pilihan berat, menikah atau pindah. Setelah beberapa kali kami deeptalk, akhirnya memang tak ada yang bisa dipilih kecuali PISAH.

Sebelum akhirnya mengucap kata perpisahan, ada pesan darinya yang takkan bisa kulupa. "Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Ini memang berat tapi kalau kita berusaha pasti kita bisa. Anggap saja ini sebagai salahsatu cobaan karena ke depan akan ada masalah yang lebih besar, jadi kita harus bisa menyelesaikannya, menemukan cara yang terbaik untuk melewatinya, KITA PASTI BISA".

Ini cukup menguatkan bagiku. Akhirnya kita harus iklas dengan keadaan yang ada. Jika tak ada bahu untuk bersandar, masih ada lantai untuk bersujud (berdoa kepada Tuhan). Aku juga mendoakan agar dia dipertemukan dengan perempuan yang baik dan bisa menjadi pelengkap dihidupnya, tidak dominan dan bisa saling memahami, karena dia orang baik, dia harus bertemu dengan orang baik pula.

Sekarang, aku sungguh lupa caranya putus cinta, aku masih belajar untuk mengelola perasaan melewati hari-hari tanpa harus berlarut dalam kesedihan. Satu hal yang aku yakini, Tuhan menyertaiku selalu, Dia takkan meninggalkan kita dalam segala kondisi.


Post a Comment

0Comments

Post a Comment (0)